Jumat, 09 Maret 2012

Surat Motivasi


“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4:14b 

 “Mencintaimu adalah anugerah terindah dalam hidupku yang tidak akan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Kehilanganmu adalah sejarah yang tidak akan terlupakan dalam hidupku.”

“Karena cinta hati selalu berdoa  dan karna doa hati selalu belajar untuk mencinta”
Masih ku simpan surat yang dia berikan kepadaku. Surat yang diberikannya sebelum ku bersenandung sebuah lagu terakhir. Lagu yang mengiringi keprrgiannya.
Dear Dewantara…
Tuhan menciptakan kamu dengan pikiran yang luar biasa dan kamu juga memiliki potensi yang tak ternilai di dalam dirimu. Namun, kamu hanya akan berprestasi dalam hidup ini ketika kamu mulai bekerja keras dan menyadari bahwa apa yang sudah kamu miliki saat ini bukan hanya sekadar kebetulan atau keberuntungan belaka. Jadi, raihlah impianmu dengan kerja keras yang disertai dengan doa.

Sebagai manusia yang memiliki hati dan pikiran, kita bebas untuk memilih apa saja dalam hidup ini. Namun satu hal yang perlu kamu ingat. Kita tidak bisa memindahkan tanggungjawab kita untuk ditanggung oleh Tuhan atau orang lain karena kita harus menanggungnya sendiri. Kamu ingin meraih impianmu atau tidak, semuanya terserah kamu. Namun, yang pasti aku akan selalu berdoa agar yang terbaik yang terjadi dalam hidupmu.

Tara…

Jangan pernah menyerah pada apa pun juga ketika kamu sedang meraih impianmu. Tidak ada alasan bagimu untuk menyerah. Orang yang gagal selalu mencari-cari alasan tapi orang yang mau berhasil selalu mencari jalan. Tahukah kamu bahwa berhasil di dalam hidup ini tidak hanya sekadar berada pada tempat dan waktu yang tepat tapi juga berada pada tempat dan waktu yang salah, namun tidak pernah menyerah.

Kamu boleh memiliki impian yang besar tetapi tanpa semangat, kerja keras, ketabahan hati, tahan uji, pantang menyerah dan bersandar kepada Tuhan, maka impianmu itu hanyalah sebuah fantasi atau khayalan belaka. Kamu tidak akan pernah melihat impianmu itu menjadi nyata dalam hidupmu. Yang ada kamu hanya bisa menikmati impianmu dalam pikiran atau imajinasimu saja. Pikirkanlah ini….

Tara…

Ketika kamu mulai putus asa, ragu, lelah atau hampir diambang kegagalan, ingatlah kembali akan impian yang ingin kamu raih. Impianmu itu akan menjadi sumber inspirasi yang akan selalu menguatkan kamu dan memberi kamu sebuah motivasi yang besar. Hidup ini memang keras tapi bukan berarti kamu harus menyerah begitu saja tanpa mencoba cara yang lain. Biarlah kesuksesan yang kamu temukan pada diri orang lain menjadi cambuk untuk kamu bangkit kembali. Kalau mereka bisa berhasil kenapa kamu tidak bisa seperti mereka. 

Bukankah Tuhan selalu menyertai kamu?
Jangan pernah takut untuk meraih impianmu. Ketakutan akan berkata lari, tetapi keberanian menghentikannya dan menggantikannya dengan kata “berjuang kembali sampai selesai”. Keberanian hanya akan lahir dari hatimu ketika kamu memiliki iman, pengharapan dan tujuan dari setiap langkah kakimu. Ingat, Tuhan akan menolong kamu jika kamu mau menolong dirimu sendiri. Iman yang kamu miliki akan menghapus setiap keraguan, kekuatiran, ketakutan, keputus asaan, kelelahan dan kegagalanmu.
Tara…

Disaat semuanya terlihat gelap, kamu harus tetap melihat sisi terangnya kehidupanmu. Milikilah iman, pengharapan dan percaya diri dalam meraih impianmu. Ketiga kata ini melebihi arti sebuah kata yaitu optimis. Dan yang membentuk percaya diri adalah sikap hatimu terhadap rasa percaya diri itu sendiri. Teruslah melangkah maju dan mengejar impianmu. Inilah saatnya impianmu yang lama terkubur dipikiranmu menjadi sebuah kenyataan. Akan selalu ada yang berdoa untukmu agar kamu bisa berhasil dalam setiap meraih semua impianmu. Jangan pernah menyerah sekali pun seolah-olah Tuhan belum 
 campur tangan dalam persoalan yang sedang kita hadapi.
Dari yang mencintaimu. (*_*)
Agnes

######
Aku terbangun di tengah malam yang sunyi. Semua kenanganmu hadir dalam tidurku dan aku tersentak seketika saat mencoba untuk meraih kembali semua yang talah berlalu. Aku terhenyak dengan kepergianmu. Aku hanya bisa menitikkan butiran-butiran air mata di hening dan dinginnya malam.
Angin malam berhembus dengan lebut seolah berbisik, “Kuatkan jiwa hadapi gejolak hidup. Semuanya sudah tiada lagi dan hanya tinggal sebuah sejarah. Mimpimu hanyalah kenangan lalu coba datang dalam memorimu.”
Kamu hadir dalam hidupku seperti Oase yang membangkitkan hasrat untuk berbagi angan. Diantara keringat yang jatuh dan jantung yang berdetak liar serta dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku katakan, “aku akan selalu rindu padamu.”
Kulayangkan pandanganku pada potretmu yang masih kusimpan.  Aku sendiri dan tanganku bergetar saat mengusap air mataku yang jatuh berkaitan dengan luka hatiku yang merindumu dan selalu mencintaimu. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Yang ada hanya wajahmu yang menari-nari diujung bola mataku. Senyuman manismu  masih bertapa di dalam relung pikiranku. Aku berdiri menatap sang purnama meski malam telah begitu sunyi. Hanya desiran angin malam yang jadi teman dalam kesunyian dan kerinduanku ini .

#####
Aku duduk sendiri di di salah satu bongkahan batu besar di pantai Cilincing. Dulu aku sering duduk di sini. Tapi tidak sendiri seperti saat ini. Ini tempat kegemaranku dan Agnes untuk menikmati sunset yang indah. Mendengarkan suara ombak kecil yang terus menerus berkejaran tanpa lelah. Merasakan sentuhan angin sepoi-sepoi.
“Tumben sendiri, De?” Entah sudah beribu kali orang bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama. Aku tahu mereka mencari sosok Agnes. Aku selalu menjawab sambil tersenyum pahit, “Agnesnya lagi pergi… Mencari madu di taman bunga!”
Aku sering datang dan duduk di bongkahan batu ini hanya untuk menikmati kenangan yang pernah ada. Aku tidak pernah bosan apa lagi mengeluh karena aku yakin, dia akan datang menemuiku. Semuanya hanya masalah waktu. Berapa lama pun aku harus menunggu aku akan tetap menunggu. Meski sampai laut yang ada di hadapanku sampai mengering. Aku tidak mempermasalahkan waktu yang aku buang untuk menunggu dia karena aku terlalu sayang dan mencintainya.
Jangan pernah tanyakan kepadaku sampai kapan aku harus disini menunggunya karena aku tidak memiliki jawabannya. Hanya Tuhan yang tau jawabannya. Simpan pertanyaan itu. Aku menikmati setiap detik yang ada.
Aku ingin menjenguknya. Ingin sekali. Namun aku harus mengurungkan niatku karena orang tuanya tidak mengizinkan aku menemuinya yang terbaring lemah di rumah sakit karena kanker otak.
Tetesan air mata yang membasahi pipi putihku mengalir. Air mata ini adalah darah yang keluar dari hatiku. Hati seorang pria yang kehilangan kekasihnya. Tangisan kepedihan yang tak terobati. Tangisan sendu tanpa penglipur lara.
Tanpa terasa, malam menyapaku setelah mentari beradu di singgasananya. Langit tak berteman. Tak ada bintang dan rembulan. Yang ada hanya pekatnya malam. Sepekat dan sekelam kisah dan cintaku. Aku disini hanya ditemani sepi. Aku merindukan suaranya. Aku merindukan cubitan mesranya. Aku ingin melihat senyuman manisnya. Aku ingin dia disisiku.
Aku melemparkan pandangan ke pantai yang ada di belakangku. Memoriku merekam dengan kuat kisah yang ada disana.

#####


“Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat! Kamu pasti suka tempatnya!” kataku kepada Agnes dengan bersemangat!
“Kemana?”
“Ada deh! Kamu ikut aku aja!”
“Ngga mau! Kasih tau dulu nama tempatnya.”
“Kalo aku kasih tau sekarang ntar kamu ngga suprise!”
“Jadi mau ngasih kejutan nih ceritanya?”
Aku hanya menjawab pertanyaan Agnes dengan tersenyum. Aku memegang tangannya dan berjalan bersamanya meninggalkan rumahku. Ketika hampir tiba di tempat tujuan. AKu menutup matanya dengan sapu tangan yang sudah aku persiapkan.
“Ngapain sih pake tutup mata segala?”
“He…he…he…Namanya juga kejutan!”
Dengan hati-hati aku melepaskan penutup mata yang masih menutup kedua bola matanya yang indah. Aku tersenyum manis melihat ekspresi Agnes begitu melihat apa yang telah aku persiapkan dengan rapi.
“Wouw….” ucap Agnes dengan ekspresi takjub. Terposona. Detik berikutnya dia menyeka air mata keharuan dan kebahagiaan yang tiba-tiba menetes. Bibir lembutnya mengikuti bait-bait lagu yang dinyanyikan pengamen yang telah aku siapkan.
Jika Ada Cara Baru Tuk Mengungkap Rasa Rindu
Aku Ingin Tahu…Aku Ingin Tahu
Jika Ada Cara Yang Belum Di Cipta Untuk Cinta
Aku Ingin Bisa…Aku Ingin Bisa

Saat Semua Kata Kehilangan Makna
Saat Segala Upaya Terasa Hampa
Sekaranglah Itu Beginilah Aku
Berdiam Tanpa Daya Hanya Karena Kehadiranmu
Sementara Jiwamu Ingin Berseru
Setengah Mati Ingin Ku Bilang

Jika Ada Nada Baru Tuk Nyanyikan Aku Cinta
Aku Kan Bernyanyi…Aku Kan Bernyanyi
Jika Ada Kata Yang Belum Di Cipta Oleh Pujangga
Aku Kan Bersuara…Aku Kan Bersuara

Saat Semua Resah Meluluh Sayapnya
Saat Yang Kumiliki Hanya Nafas Ini
Sekarang Lah Itu Beginilah Aku
Hanya Detak Jantungku Yang Mampu Jujur Kepadamu
Sementara Lidahku Beku Dan Keluh
Setengah Mati Ku Ingin Menghilang




( Marcell ft. Karen Pooroe - Bukan Lagu Cinta )

“Hanya ini yang bisa aku berikan di ulang tahun kamu,” ucapku setelah pengamen tersebut pergi setelah selesai menyelesaikan tugas mereka.
Aku dan Agnes menyapu pandangan kami ke hamparan pasir putih yang mendadak menjadi indah. Di antara hamparan itu tersusun rapi kulit kerang yang berbentuk hati besar dan di dalamnya ada tulisan HAPPY BIRTHDAY Agnes!!!
“Aku harap kamu suka!”
“Mhmm…”
Aku menatap Agnes menunggu komentarnya.
“Aku suka banget! Apa lagi bunga mawar kuningnya!”
“Kuning, warna kesukaan kamu.”
“Seberapa besar kamu menyayangi aku?”
Aku kaget dengan pertanyaan yang baru aku dengar. Aku diam sebentar.
“Seluas lautan yang tak bertepi!”
“Gombal! Kalo kamu memandang jauh sepertinya laut itu tak bertepi tapi sebenarnya kita sedang berdiri ditepian itu. Bukannya kita sedang ada di tepi pantai? He…he…he…”
“Ha..ha..ha.. Benar juga ya!”
Kami terdiam dan larut dengan pikiran kami masing-masing.
“Apa aku boleh jujur?” kataku dengan suara pelan.
Agnes menatapku dengan tatapan kebingungan yang kemudian berganti dengan senyuman manis lalu disusul suara tawa yang lembut.
“Aku suka orang yang jujur!”
“Kalau begitu, aku akan jujur dengan perasaanku. Aku mencintaimu! Aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku terlanjur jatuh cinta padamu!”
“Aku rasa kamu sudah tau jawabannya, De! Aku tidak punya alasan untuk tidak menyayangimu. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Kamu sendiri tau keadaan aku? Aku jauh lebih memilih kita menjadi seperti kakak dan adik. Aku rasa itu yang terbaik untuk kita berdua.”
“Aku tidak pernah peduli dengan keadaan kamu karena aku tau resiko mencintaimu adalah menerima semua kekuranganmu.”
“Tapi De! Ini berbeda! Aku ngga mau kamu akan terluka! Aku ngga mau kamu kembali merasakan sakitnya kehilangan orang yang kamu cintai untuk kedua kalinya!”
“Percayalah, aku sudah pernah merasakan ditinggalkan untuk selama-lamanya. Aku akan jadi lebih siap jika…” suaraku mendadak hilang. Aku sendiri tidak sanggup melanjutkan kalimatku.
“De… Semua orang tau kalo aku ngga akan hidup lebih lama lagi!”
“Tapi aku percaya mukjizat itu terjadi. Kamu akan sembuh!”
“Aku juga percaya tapi kita harus realistis! Kalo ternyata Tuhan ngga sembuhkan aku?”
Aku terdiam.
“Aku bisa menggangapmu seperti adikku sendiri tapi aku tidak bisa mengubah perasaan aku padamu. Aku terlanjur mencintaimu.”
“Tapi ini untuk kebaikan kamu, De! Ketika aku dekat denganmu aku menemukan sosok Mario dalam dirimu. Alasan aku dekat denganmu karena aku mendapatkan apa yang pernah aku dapatkan dari Mario, almarhum kokoku! Aku rasa ini yang terbaik buat kita.”
Agnes melangkah pergi dan meninggalkanku. AKu hanya berdiri terpaku memandangnya pergi. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melangkah dang mengejarnya.
#####
Aku berdiri terpaku melihat wajah pucat Agnes yang terbaring lemah. Hati kedua orang tuanya luluh juga ketika Agnes memohon untuk bertemu denganku meski hanya sebentar saja.
Ya Tuhan! Sunggu aku tak sanggup melihat gadis pujaanku menahan rasa sakitnya.
Agnes menatapku dan tersenyum tipis. Aku menghampirinya dan menggengam tangannya.
“Aku masih percaya dengan mujizat! Kamu harus kuat.”
“Cepat atau lambat semua manusia pasti akan meninggal dunia. Hanya masalah waktu,” ucapnya pelan.
Aku terdiam.
“Aku ingin kamu membaca isi surat ini besok,” kata Agnes sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning.
Aku menerimanya lalu menyimpannya di saku celanaku.
“Aku mencintaimu,” bisikku pelan.
Air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku?”"
Aku tersenyum dan mengiyakan.
“Aku ingin dengar lagu, Dia mengerti.”
Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah
Tuhan tak pernah berdusta
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Bagi orang percaya
Mujizat nyata

Reff:
Dia mengerti, dia peduli
Persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti, dia peduli
Persoalan yang kita alami


Namun satu yang dia minta
Agar kita percaya
Sampai mujizat menjadi nyata
Tuhan mengerti

(Dia mnegerti- Delon)
“Agnes!!!!!” Aku berteriak keras saat menyadari Agnes tak lagi bernafas dan memejamkan matanya setelah aku menyelesaikan lagu permintaannya.

#####
*Terima kasih untuk semua sahabat yang membaca kisahnya dan yang telah share link kisahnya di twitter, FB dan via bb :)

Kamis, 08 Maret 2012

Arti Sebuah Kehilangan

 (Sepenggal kisah pahit untuk mengenang Nikita)

“Kamu mungkin menemukan cinta dankehilangannya tapi ketika cinta itu mati,kamu TIDAK perlu mati bersamanya…”
Panorama pantai Cilincing di sore hari terasa indah. Hembusan angin yang sepoi-sepoi melenakan siapa saja. Matahari tampak malu-malu bergulir di bibir cakrawala lalu meluncur anggun mencium permukaan laut. Detik berganti menit dan menit terus berjalan, perlahan-lahan laut mulai menghitam. Perlahan namun pasti bola matahari itu terbenam. Ruas cahaya terakhir yang dipancarkannya membiaskan sapuan jingga ke langit. Menciptakan panorama yang memancing desah kagum bagi siapa saja yang melihatnya.
Tidak jauh dari bibir pantai Cilincing, ada sebuah Pura. Sebuah pura megah yang berdiri dan menjadi saksi bisu kemesraan yang setiap hari dilukiskan oleh laut dan matahari. Nikita membenamkan tubuhnya dalam pelukan mesra kekasihnya. Dewantara hanya membelai mesra rambut hitam Nikita yang diterpa angin.
Dalam naungan cuaca yang mulai meredup. Ketika kegelapan yang samar mulai menyapa, mereka semakin mesra.
“Seperti matahari dalam pelukan laut,” bisik Nikita terharu. “Kita tak akan saling melepaskan meski apa pun yang terjadi.”
Dewantara menggenggam erat tangan Nikita. Seakan ingin menyimpan dan mengabadikannya dalam relung hatinya yang paling dalam. Detik berikutnya, Dewantara memandang wajah kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Meski kegelapan mulai menyapa namun itu tak mampu melenyapkan pancaran keindahan wajah Nikita. Rambutnya yang tergerai bebas melewati bahu, kusut dibelai angin senja, menebarkan keharuman yang menggoda. Sementara desah nafasnya yang hangat, aroma tubuhnya yang semerbak, membuatnya tak pernah bosan walaupun mereka selalu bergelimang dalam madu kasih.
Nikita tidak ingin kehilangan Dewantara. Kalau boleh memilih, dia ingin berada disamping  Dewantara untuk selama-lamanya.
Namun dorongan gelombang cinta yang demikian besar, memaksanya meraih pilihan lain. Karena dia sadar, cinta selalu memberi. Bukan meminta. Menuntut. Menguasai.
“Akan ada seorang gadis yang akan datang menggantikanku, sayang,” bisiknya lembut di antara desau angin yang menerpa.
“Aku berjanji akan mengirimkannya untukmu. Untuk mendampingimu. Mencintaimu. Seorang gadis yang sepertiku bahkan lebih. Yang disediakan Tuhan untukmu.”
“Tidak,” Dewantara menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibirnya menahan tangis.
“Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan tempatmu di hatiku.”
Dewantara menaruh seraut wajah Nikita di antara kedua belah tangannya. Seolah-olah dia menimang sebentuk piala berlian yang sangat berharga.
“Dia akan terbit seperti matahari esok pagi,” gumam Nikita halus. “Setelah malam yang gelap, dia akan merekah di bibir cakrawala. Begitu kamu melihatnya, kamu tahu aku yang mengirimkannya untukmu.”
Dari kejauhan, anak-anak jalanan yang memakai baju bertuliskan HORE (house of revival)  lagi lesehan di pantai bernyanyi sambil bermain gitar. Senandung lagu lembut yang mampu menggetarkan hati Dewantara.
September settles softly
leaves are starting to fall,
and I recall
the last time you were here,
your laughter a melody that lingers still
There’s a hole in my heart so i’ll carry it
whereever i go, like a treasure that travels
with me down every road,
There’s this lonely loss so deep, Kinda
bitter kinda sweet, there a hole in my
in the shape of you
Time steals so swiftly
as children having children of their own,
and around life’s merry-go round goes
and there you are wanting what you can not hold
There’s a hole in my heart and i carry it
wherever i go, like a treasure that travels
with me down every road,
There’s this lonely loss so deep, Kinda
bitter kinda sweet, there a hole in my
in the shape of you
Even though my heart aches theres a smile
on my face cause just like a window to heaven,
theres a light shining through this hole in my heart
Theres a hole in my heart,
Theres a hole in my heart,
Theres a hole in my heart,
But its in the shape of you
( Shape Of You - Jewel)
………………….
Dewantara terbangun dari tidurnya. Ia mengatur nafasnya. Mimpinya seolah-olah nyata. Sudah 12 malam berturut-turut dia memimpikan Nikita kekasihnya yang telah meninggalkannya karena kecelakaan. Dewantara bangkit dan meraih gunting kuku yang sudah dipersiapkannya untuk diberikan tepat ULTAH Nikita yang ke tujuh belas. Gunting kuku manis yang sengaja dipesannya. Gunting kuku yang bertuliskan namanya dan Nikita. Kenangan yang akan selalu tersimpan dihatinya adalah saat-saat dimana Nikita memotong kukunya yang panjang.
Tiba-tiba blackberry barunya berbunyi. Ada pesan yang masuk. Di raihnya BB yang tergeletak tidak jauh dari tangannya. Dengan mata yang berat  dibacanya sebuah pesan dari Admin @yakuza_xtm
“Cinta baru sempurna jika terasa menyayat, seperti segumpal tanah liat yang akan baru tampil indah setelah dipahat. Cinta menjadi abadi jika tak terjangkau. Ibarat bumi selalu mengitari matahari. Karena tak mampu meraihnya, selamanya menjadi bayangan yang tak terengkuh….
Ditinggalkan jauh lebih menyakitkan daripada diputuskan. Namun lebih menyakitkan lagi ketika kita tidak mengerti bahwa terkadang Tuhan izinkan kita kehilangan seseorang untuk kebaikan kita sendiri….. Kehilangan akan membuat kita merasa rapuh tapi disisi lain kehilangan bisa membuat kita tegar.
Tetapi sesuatu yang hilang belum tentu meninggalkan kekosongan, karena jejak-jejak yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar hilang. Maka, mari belajar untuk mencintai kehilangan itu, karena ia adalah bagian alamiah dari hidup.
Kehilangan membuat banyak pelajaran dan pengalaman baru buat kita.  Kita dapat menerima dengan baik proses itu, menerima diri kita sendiri. Kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup.
Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ketika kita kehilangan. Kemenangan hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. Pelajaran dari beberapa kehilangan, bahwa dalam setiap kehilangan ada pembelajaran yang membuat jiwa makin dewasa. Atau mungkin menjadi sebuah proses lepasnya sebuah ego dalam diri.
Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa. Menyadari bahwa sekuat apapun jiwa dan diri, setiap hidup tak pernah lepas dari kehilangan. Bahwa cerita di dunia ini bukan hanya celoteh kita, tapi ada celoteh lain yang harus didengarkan, dipenuhi dan dijalankan. Tak lain demi harmonisasi.
Dewantara memejamkan matanya. Air matanya jatuh tak tertahan. Kini dia menyadari kehilangan bukan segala-galanya.



………………………
  This thing called love I just can’t handle it
this thing called love I must get round to it
I ain’t ready
Crazy little thing called love
This (This Thing) called love
It cries (Like a baby)
In a cradle all night
It swings (
It jives
It shakes all over like a jelly fish,
I kinda like it
Crazy little thing called love
There goes my baby
She knows how to Rock n’ roll
She drives me crazy
She gives me hot and cold fever
Then she leaves me in a cool cool sweat
I gotta be cool relax, get hip
Get on my track’s
Take a back seat, hitch-hike
And take a long ride on my motor bike
Until I’m ready
Crazy little thing called love
I gotta be cool relax, get hip
Get on my track’s
Take a back seat, hitch-hike
And take a long ride on my motor bike
Until I’m ready (Ready Freddie)
Crazy little thing called love
This thing called love I just can’t handle it
this thing called love I must get round to it
I ain’t ready
Crazy little thing called love
Crazy little thing called love
Crazy little thing called love
Crazy little thing called love

Rio, Maafkan papa

“Ayah itu pahlawan karena seorang ayah akan melupakan apa yang dia inginkan, agar bisa memberikan apa yang anaknya butuhkan…”


Tidak pernah menjadi masalah, siapa ayah saya. Yang terpenting ayah saya adalah sosok yang mengasihi saya.


Aku tidak pernah malu. Sedikit pun! Aku bangga dengan wajahku. Meski aku tak seperti ayah lainnya. Meski terkadang aku harus menerima kenyataan kalau putraku satu-satunyalah yang justru malu dengan keadaanku.
Hanya dia yang menjadi penghiburku setelah istriku pergi untuk selama-lamanya ketika Rio masih berumur tujuh bulan.
Membesarkan semata wayangku dengan apa adanya yang aku punya. Tapi aku selalu memimpikan Rio Lie tidak menjadi apa adanya melainkan menjadi anak yang luar biasa.
Sampai saat ini aku memilih menduda dan berkomitmen membesarkan Rio sendiri. Tidak mudah sebenarnya. Tapi semuanya dapat aku lakukan karena aku sangat mengasihi Rio.
Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Aku tidak pernah menyesal mengorbankan banyak hal untuk Rio. Meski kebaikan dan pengorbananku itu dibalas dengan kebencian.
“Papa! Aku tidak mau papa datang ke sekolahku lagi!” teriak Rio begitu tiba di rumah.
Aku menghela nafas yang panjang. Ternyata kehadiranku tadi pagi ke sekolah untuk menggantarkan bukunya yang tertinggal membuatnya marah seperti ini.
“Tapi, Rio…”
Belum sempat aku menjelaskan semuanya, Rio memotong kalimatku. “Aku malu, pa! Rio malu di ledekin sama teman-teman Rio! Rio tidak mau sekolah lagi!”
Seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa hatiku. Perih! Sakit!
Pada akhirnya aku pasrah! Tidak ada pilihan lain selain memindahkan Rio ke sekolah lain. Kalau tidak, dia tidak akan mau sekolah.
Seorang ayah pasti rindu jalan bersama dengan anak semata wayangnya. Demikian juga aku. Tapi semua kerinduan itu harus aku pendam. Aku tahu, Rio pasti tidak akan mau jalan bersamaku. Aku harus memaklumi, Rio yang sudah beranjak remaja itu pasti malu dengan keadaanku ini.
Aku tidak menolak keinginannya sama sekali untuk memilih kos ketika Rio kuliah. Padahal jarak rumah dengan kampus hanya tiga puluh menit.
*****
Aku membungkus kado istimewa untuk Rio. Hari ini dia merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan belas tahun. Aku nekad mendatangi kampusnya. Aku ingin sekali memberikan secara langsung kado istimewa ini untuknya.
“Rio!” teriaku ketika melihatnya berjalan ke arah pintu gerbang kampus.
Aku yang hampir tiga jam menunggu di warung terdekat tersenyum manis. Sudah hampir empat bulan Rio tidak pulang ke rumah. Sungguh, aku rindu kepadanya.
Rio berlari kecil menghampiriku. Aku mengangkat ke dua tanganku ketika Rio mendekatiku. Aku ingin sekali memeluknya untuk melepaskan kerinduanku padanya.
Tapi Rio menyeret tanganku. Mengiringku ke tempat yang sepi!
“Papa! Apa-apan ini? Rio kan sudah bilang! Papa tidak perlu menjenguk Rio.”
Dengan mata yang berkaca-kaca, aku hanya mampu mengucapkan “Selamat ulang tahun, Rio!”. Detik berikutnya aku menyerahkan kado yang sudah aku siapkan. Aku menepuk-nepuk pundakknya lalu beranjak pergi.
Aku cukup mengerti kenapa Rio bersikap demikian. Namun aku berharap, Rio membaca surat yang aku selipkan di kado istimewa yang telah aku berikan.
*****
Rio…
Selamat ulang tahun, nak. Maafkan papa kalau papa tidak seperti papa lainnya. Papa sungguh mengerti perasaan kamu. Papa tidak menyalahkanmu nak.
Tapi kamu harus tahu satu rahasia yang papa simpan saat ini. Dulu, papa memiliki mata yang normal. Kedua bola mata papa bisa melihat dengan baik. Tapi, papa dengan senang hati mendonorkan salah satu bola mata papa untukmu. Kamu tahu kenapa?
Papa mengasihimu, nak! Ketika dokter mengatakan salah satu matamu tidak berfungsi seperti anak normal lainnya. Papa memutuskan, papa tidak rela kalau kamu dewasa nanti menjadi minder karena tidak memiliki mata yang normal seperti anak lainnya.
Rio…
Papa sudah melakukan bagian papa untukmu. Simpan baik-baik Alkitab yang papa berikan. Maafkan papa kalau uang kertasnya lusuh dan banyak uang koin. Hanya itu yang bisa papa berikan untukmu.
Papa tidak tahu kado apa yang kamu suka. Belilah kado yang kamu inginkan dengan uang tersebut. Maafkan papa kalau papa tidak bisa membelikan kamu kado yang mahal.
Sekali lagi papa ucapkan, selamat ulang tahun Rio!
Yang mengasihimu,
PAPA
*****

Pelukan Daniel


Dalam kesenangan, mudah sekali melupakan Tuhan. Dalam kesusahan, susah sekali melupakanNya.”


“Yang penting bukan seberapa lama kita hidup tetapi yang penting adalah seberapa bergunanya kita bagi sesama selama kita hidup”


“Terkadang masalah kita terlihat seperti raksasa dan kita harus mengangkat kepala kita untuk melihat raksasa tersebut. Namun, perlu diingat Tuhan melihat masalah tersebut dengan menundukan kepalaNya karena masalah kita terlalu kecil buat Dia.”

and_rex

“Kita putus!” Masih terngiang ditelingaku kalimat yang diucapkan Agnes dua jam yang lalu.
Aku hanya diam membisu. Seolah ada sesuatu yang tajam menusuk ke dalam hatiku.

“Kamu ngga kayak cowok teman-teman aku yang lain. Kalau mau dibandingin kayak langit dan bumi deh. Semuanya pada cerita tentang kehebatan dan kelebihan pacar mereka sedangkan aku? Aku ngga tau harus ngomong apa!”

Aku memilih diam dan mendengarkan alasannya memutuskan hubungan kami yang sudah berjalan dua tahun.  Tepatnya hari ini kami dua tahun jadian.

“Masa hari gini dia ngga punya Blackberry?! Yang ada hanya Hp butut nan tua. Yang bisa untuk sms dan telpon doang. Sedangkan pacar teman-teman aku, jangankan BB, iphone pun punya. Trus kamu ngga pernah jemput aku. Jangankan pake mobil. Sepeda aja ngga punya, apa lagi motor! Ke mana-mana naik angkot. Duh, padahal Jakarta kan panas dan berdebu di mana-mana. Coba lihat tuh, cowoknya si Ririn. Mau naik mobil apa aja bisa. Tinggal pilih yang ada di garasi rumahnya. Sopir ngga cuma satu tapi lebih. Ke mana aja pasti dianterin. Sementara, kamu?! Jauh banget……”

Aku mencoba menahan rasa sakit tersebut.

“Kamu tidak pernah ajak aku makan di kafe atau restoran yang berkelas gitu. Yang ada minum es teh dan makan bubur di pinggir jalan. Kan kalo teman-teman aku liat bisa gengsi aku. Gengsi segengsi gengsinya. Gokil, malu-maluin banget sebanget bangetnya!”

Hatiku hanya berbisik, “Jadi selama ini kamu malu kalau aku ajak kamu makan di pinggir jalan?”

“Kamu ngga pernah ngasih aku kado atau sesuatu yang “mahal” gitu. Coba, si Keisha yang baru jadian satu bulan ama si Tio, pake liontin emas putih. Sedangkan aku? Mimpi kali yeeee….”

Akhirnya bibirku pun mengeluarkan kalimat tersebut. “Maaf, kalau selama kita jadian aku tidak bisa seperti  pacar teman-teman kamu. Terima kasih kalau kamu pernah hadir dalam hidupku. Seharusnya dari awal kamu tau kalau aku hanya anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa.”

Detik berikutnya aku hanya melihat punggung Agnes yang meninggalkanku. Meninggalkan sebuah luka dihatiku.

*****

“Ko Tara!” teriak Daniel menyambut kedatanganku. Sebuah pelukan hangat membalut tubuhku.

Sambutan Daniel menjadi obat sakit di hatiku.

Aku membalas pelukannya. Detik berikutnya air mataku jatuh tak tertahan. Aku tidak pernah menyesal terlahir dikeluarga yang miskin. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan ketika aku harus kehilangan kedua orang tuaku lima tahun yang lalu. Waktu mereka pergi untuk selama-lamanya,
Daniel baru berusia dua tahun. Beruntung waktu itu aku baru saja menyelesaikan bangku SMA.

Aku  harus membesarkan Daniel sendiri dengan hasil uang yang aku dapat dari menjadi seorang fotografer dan usaha Wedding Organizer yang aku rintis.

“Kamu sudah makan?” tanyaku sambil menatap wajah Daniel.

“Aku nunggu koko! Aku mau makan dengan koko!”

Aku memperhatikan wajah Daniel! Pucat! Sementara ada tanda bercak darah pada kulitnya yang putih.

“Kamu ngga kenapa-napakan, Dan?” Tanyaku penuh dengan kekuatiran.

“Koko, Daniel sehat-sehat saja! Cuma tadi sempat mimisan!”

Aku terkejut mendengar jawaban Daniel.

“Selesai makan nanti kita ke dokter ya?”

“Daniel, takut di suntik!”

“Kamu ngga usah takut! Kan ada koko! Disuntik cuma kayak digigit semut merah.”

“Ya, udah! Tapi aku ditemanin sama koko ya?”

Aku menggangukkan kepalaku tanda setuju.

*****

Daniel dirujuk ke Bagian Anak di salah satu Rumah Sakit di Jakarta . Di rumah sakit itu, sumsum tulang belakangnya diambil. Ternyata trombositnya rendah, sedangkan sel darah putih berlebihan.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, ia positif terjangkit leukemia dan harus menjalani pengobatan selama dua tahun.

Pada tiga bulan pertama, Daniel dikemoterapi dan diberi obat antikanker (stitostika). Setiap kali mendapat pengobatan, ia muntah, nyeri pada sendi, dan rambut rontok. Sel kanker pun menjalar hingga ke bagian otak. Harapan untuk sembuh kian tipis.

“Koko! Daniel sayang koko!” ucap Daniel ketika memelukku diatas ranjangnya.

“Koko juga sayang Daniel! Tuhan pasti sembuhkan kamu!” aku mencoba menghiburnya. Setiap hari aku meyakinkannya, kalau dia pasti sembuh.

“Besok, Daniel sudah bisa pulang!”

Mungkin itu berita gembira bagi Daniel. Tapi bagiku, tidak! Uang tabunganku sudah habis untuk membiayai pengobatan Daniel. Dua hari yang lalu aku terpaksa menjual kameraku untuk menutupi biaya yang belum aku lunasi. Daniel tidak akan mendapatkan terapi lagi.

“Daniel, malu!”

“Malu kenapa sayang?”

“Kepala Daniel botak!”

“Tapi koko ngga pernah malu punya adik yang kepalanya botak!”

“Koko, minggu depan Daniel ulang tahun yang ke delapan loh!”

Aku menatap Daniel. “Koko ingat kok! Daniel mau kado apa?”

Daniel berpikir sejenak.

“Daniel cuma mau sembuh. Daniel ngga mau kado apa-apa.”

“Serius? Daniel suka SpongeBobkan?”

“Suka banget!”

“Mau ngga kalo koko kasih boneka SpongeBob?”

“Mau!” sahut Daniel dengan semangat!

*****

Aku berdiri terpaku mendengar suara merdu Daniel. Hari ini aku membawa Daniel ke Gereja. Aku tidak menyangka kalau dia akan maju ke altar dengan kursi rodanya dan menyanyikan sebuah pujian.

Tak Terbatas Kuasa-Mu Tuhan
Semua Dapat Kau Lakukan
Apa Yang Kelihatan Mustahil Bagiku
Itu Sangat Mungkin Bagi-Mu
Reff :
Di Saat Ku Tak Berdaya
Kuasa-Mu Yang Sempurna
Ketika Ku Percaya
Mujizat Itu Nyata
Bukan Kar’na Kekuatan
Namun Roh-Mu Ya Tuhan
Ketika Ku Berdoa
Mujizat Itu Nyata
Bridge :

Mujizat Itu Dekat Di Mulutku

Dan Ku Hidup Oleh Percaya

Aku melihat beberapa jemaat meneteskan air mata.

“Kalau Daniel masih bisa hidup hari ini itu karena mujizat dari Tuhan Yesus. Terima kasih untuk
Koko Dewantara yang selama ini membesarkan Daniel sendiri. Daniel janji, Daniel ngga akan nakal!

Daniel Sayang koko!” tutur Daniel setelah mengakhiri pujiannya.

*****

“Koko, kenapa nangis?” tanya Daniel dengan lemah.

Hari ini keadaan Daniel kritis. Terpaksa aku membawanya ke rumah sakit.

Aku menghapus air mataku.

“Tuhan sembuhkan atau tidak, bagi Daniel Tuhan tetap baik!”

Aku menggangukan kepalaku tanda setuju dengan ucapannya.

“Koko…. Terima kasih buat boneka SpongeBobnya ya!”

“Sama-sama sayang.”

Daniel mengambil sesuatu dibalik bantalnya.  Lalu dia melihatnya dengan lemah.

Foto kedua orang tuaku bersama aku dan Daniel yang masih bayi.

“Koko, maafin Daniel ya kalo selama ini Daniel nakal dan repotin koko. Nanti kalo Daniel ke Surga,
Daniel akan cari mama dan papa. Koko ngga usah kuatir lagi.”

Aku memeluk Daniel. Ya Tuhan! Aku belum siap kehilangan Daniel!

Dengan pelan Daniel mengucapkan sebait doa sambil memeluk boneka SpongeBobnya.
Tuhan….

Aku lapar! Sangat Lapar!

Tapi aku tidak ingin meminta makanan.

Aku hanya minta berkati mereka yang kelaparan sepertiku.
Tuhan…
Aku sakit! Sangat sakit!
Tapi aku tidak meminta kesembuhan.
Aku hanya minta sembuhkan mereka yang sakit sepertiku.
Tuhan…
Aku sebatang kara!
Tapi aku tidak meminta boneka.
Aku hanya minta hiburkan mereka yang kesepian.
Tuhan…
Bajuku penuh tambalan.
Tapi aku tidak meminta baju baru.
Aku hanya minta berkati mereka yang berkekurangan.
Tuhan…
Aku tidak ingin mujizat-Mu.
Meski aku tahu, Engkau sanggup melakukan-Nya.
Aku hanya minta, tunjukkan mujizatmu kepada mereka yang tidak mempercayai-Mu.
Tuhan…
Kalau nanti aku meninggal.
Aku tidak ingin ada yang menangis.
Tapi aku ingin mereka tersenyum. Tersenyum karena aku bertahan hingga akhirnya.
Tuhan…
Malam ini aku tidak meminta apa-apa untuk diriku.
Jadilah kehendakmu di bumi seperti di Surga.
Karena aku tahu, bersama-Mu semuanya akan Engkau berikan.
AMIN
Detik berikutnya Daniel menatapku dengan lembut dan lemah. Perlahan-lahan matanya tertutup rapat. Air mataku jatuh berderai tak tertahan.
*Terima kasih untuk semua sahabat yang membaca kisahnya dan yang telah share link kisahnya di twitter, FB 

Kamis, 01 Maret 2012


 
“Tuhan selalu punya rencana indah di balik suatu kejadian yang Ia ijinkan terjadi dalam hidupmu.”

Aku menatap bocah enam tahun yang berdiri di depanku. Tubuhnya penuh dengan daki. Aroma tak sedap merasuki penciumanku. Entah sudah berapa lama tubuhnya yang mungil tak bersentuhan dengan air dan sabun mandi.

Bola matanya yang indah memancarkan sebuah semangat. Astaga! Senyumannya manis sekali ketika dia tersenyum padaku. Sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya. Laksana pelangi yang menghiasai langit hujan.

“Nama kamu siapa?” tanyaku sambil membalas senyumnya.
“Alexander,” jawabnya sambil tangannya memainkan ujung bajunya yang memiliki banyak tambalan.

“Alex, datang dengan siapa ke sini?”

Diam. Tak ada jawaban. Pandangannya menyapu lantai kelas yang kosong. Masih belum ada murid yang datang. Biasanya kalau hujan seperti ini murid-murid datangnya suka agak telat.
Ada sebutir air mata yang mendadak jatuh membasahi pipinya. Aku menjadi bingung dengan reaksinya atas pertanyanku.

“Alex, datang sendiri ya?” tanyaku sambil menggengam tangannya yang dingin.
“Emang kalau ngga ada mama sama papa ngga boleh sekolah di sini ya, kak?” jawabnya pelan.
Jawaban Alex menusuk hatiku.

“Siapa pun bisa belajar di sini. Termasuk kamu,” jawabku lalu mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut.

“Alex ngga punya papa dan mama. Papa dan mama Alex sudah meninggal. Alex hanya tinggal dengan nenek.”

Aku memperhatikan kantong plastik tua yang dibawanya. Merasa, aku penasaran dengan isi kantong plastik tersebut. Alex langsung mengeluarkan isinya.

Ya Tuhan! Aku mencoba membendung air mataku tidak jatuh.
Miris. Sesak. Sedih dan terharu menyatu di dalam dadaku melihat isi kantong plastik yang di bawanya.

Dengan bangganya dia memperlihatkanku, beberapa lembar kalender usang yang telah dipotong empat lalu di lobangi dan diikat dengan tali dijadikan buku. Sebuah pensil yang sepertinya sudah di serut dengan pisau.

“Buku Alex, jelek ya kak?” Aku langsung memeluknya.
Suaraku sepertinya tertahan di tenggorokanku. Aku tak mampu mengatakan apa pun. Air mataku pun berhasil jatuh. Aku mengagumi semangatnya yang ingin belajar. Sebuah semangat yang luar biasa di antara keterbatasan yang dimilikinya.

Sewaktu aku kecil, aku sering merobek bukuku hanya untuk membuat pesawat kertas atau perahu. Ketika aku duduk di bangku SMP dan SMA, bukuku sering penuh dengan coretan yang tidak jelas.

*****

Selesai kelas dan anak-anak lainnya sudah pulang semua. Aku menggantar Alex pulang. Bukan karena dia tidak bisa pulang sendiri. Tapi aku ingin melihat di mana dia tinggal.
“Kakak, ini rumah Alex!” ucapnya dengan penuh kebanggan. Tak ada sedikit pun rasa malu.
Ini bukan rumah apa lagi gubuk.

Aku memperhatikan hamparan tikar tua yang menjadi alas. Sekat setinggi lutut orang dewasa mengelilingi rumah Alex. Tidak ada dinding sama sekali apa lagi atap. Jalan tol megah menjadi atapnya. Tumpukan kardus menjadi perabot rumah tersebut. Halamannya penuh dengan tumpukan gelas dan botol bekas air mineral.

“Masuk, kak! Nenek lagi ngga ada. Masih mulung!”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya. Aku masuk lalu menghempaskan tubuhku ke lantai.
“Kak, ini airnya diminum ya,” ucap Alex lalu menyerahkan segelas air putih.

Aku meraih gelas yang penuh dengan air putih tersebut lalu meminumnya. Terasa aneh di lidahku. Sepertinya itu adalah air sumur yang telah di rebus.

*****

Dalam kurun dua minggu Alex sudah bisa mengenal semua abjad dan angka. Prestasi yang tidak dapat diikuti oleh teman-teman sekelasnya yang lain.

“Wow! Alex hebat! Sudah bisa mengenal semua huruf,” pujiku setelah kelas selesai.

Dengan malu-malu dia tersenyum padaku. Detik berikutnya, dia mencari sesuatu di dalam tas yang pernah aku berikan padanya.
“Alex, mau bisa baca Alkitab seperti mama dan papa dulu. Makanya Alex mau belajar.”
Wajahku rasanya seperti tertampar. “Maafkan aku, Tuhan. Pagi ini aku belum sempat membaca Firman-Mu.” Bisikku dalam hati.

*****

Wajahku memancarkan kegelisahan. Entah kenapa, aku merasa kuatir ketika Alex belum juga datang. Tidak seperti biasanya, jam segini dia sudah datang. Selalu dia menjadi murid yang pertama kali hadir di kelas. Lima menit lagi kelas akan di mulai.

Hingga waktu jam proses belajar mengajar, Alex tidak datang.

“Sakitkah dia?” tanyaku dallam hati.

Tak ada satu pun yang tahu alasan Alex tidak hadir hari ini di kelas.
Selesai kelas, aku langsung bergegas menuju ke tempat tinggalnya. Sebelum sampai ke rumah Alex, seorang ibu menyapaku.

“Cari Alex ya, kak?”

Aku menganggukan kepala sambil menjawab “Iya, bu!”

“Alex di rumah sakit, kak! Semalam Alex …….”

Sungguh, aku tidak mampu mendengar penjelasan ibu tersebut. Seragam dan perlengkapan sekolah yang aku pegang untuk Alex rasanya ingin lepas dari tanganku.

*****

Rasanya langit seperti runtuh dan menimpaku ketika melihat keadaan Alex. Tangan kanannya penuh dengan perban. Alex kecelakaan ketika membantu neneknya memulung dan tangan kanannya terlindas ban truk sehingga dia harus diamputasi. Dengan bekal pinjaman sana-sini dan bantuan tetangga serta pengguna jalan raya yang menyaksikan peristiwa tersebut, akhirnya Alex di bawa ke rumah sakit.

Kantong plastik yang berisi seragam sekolah, tas dan perlengkapan sekolah terlepas dari tanganku. Masih terngiang dikepalaku percakapan kami kemaren.

“Kak, Alex mau masuk SD tapi kata nenek, uangnya belum cukup. Katanya baju seragam sekolah mahal.

Tapi Alex percaya kalau Tuhan pasti akan kasih nenek duit biar Alex bisa sekolah.”
“Alex, pasti sekolah. Percayalah!”

Tangan kanannya yang buntung dibalut perban. Betapa mirisnya hatiku melihat perban itu. Aku melihat tubuhnya yang pucat dan menahan rasa sakit diantara selang infus yang masih terpasang ditubuhnya.

Aku mengumpulkan semua kekuatanku hanya untuk menyapanya.
“Hallo, Alex?”

Aku duduk di sisinya. Aku membelai rambutnya.

“Kak, tangan Alex sakit sekali. Tangan Alex kenapa dipotong? Kan Alex mau nulis?”
Aku mencoba untuk menahan air mataku untuk tidak jatuh membasahi pipiku. Aku tidak boleh menangis didepan Alex.

“Alex pasti sembuh!” kataku mencoba menghiburnya.
“Kalo Alex sembuh itu artinya tangan Alex tumbuh lagi ya, kak?”
Nenek Alex yang berdiri dibelakangku memegang erat pundakku. Hanya Tuhan yang tau betapa perihnya hati ini melihat keadaan Alex.

“Iya, Alex lupa. Alex bisa menulis pakai tangan kiri. Kalau Tuhan ngga kasih mujizat untuk numbuhin tangan kanan Alex, tuhan pasti kasih mujizat buat Alex untuk menulis dengan tangan kiri.” Ucapnya dengan senyuman.

Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku juga merasakan tetesan air mata nenek Alex jatuh membasahi bahuku. Aku ngga bisa membayangkan kalau aku mengalami apa yang dialaminya. Aku mungkin bisa gila! Tapi berbeda dengan Alex. Dia tetap optimis meski dia sendiri tidak tahu arti optimis itu apa.

“Nanti kakak akan ajarin kamu menulis ya!”

“Kapan?” tanyanya.

“Kalau kamu sembuh nanti.”

“Kakak kenapa menangis? Aku aja yang kecil ngga nangis.”
Aku cepat-cepat menghapus air mataku demikian juga neneknya.

“Aku mau nyanyi untuk kakak, bolehkan?”
Aku hanya menganggukan kepala lalu mengalunlah sebuah lagu.


KU YAKIN SAAT KAU BERFIRMAN
KU MENANG SAAT KAU BERTINDAK
HIDUPKU HANYA DITENTUKAN
OLEH PERKATAAN-MU
KU AMAN KAR’NA KAU MENJAGA
KU KUAT KAR’NA KAU MENOPANG
HIDUPKU HANYA DITENTUKAN
OLEH KUASA-MU
BAGI TUHAN TAK ADA YANG MUSTAHIL
BAGI TUHAN TAK ADA YANG TAK MUNGKIN
MUJIZAT-NYA DISEDIAKAN BAGIKU
KU DIANGKAT DAN DIPULIHKAN-NYA

Celengan Joshua
*****
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”
(II Korintus9:7)
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”
(Amsal 11:24)

Aku menatap bocah kecil yang duduk lesuh di dekat tiang lampu merah. Sedari tadi matanya melirik bocah laki-laki tersebut yang mengenakan kaos oblong, celana SD dan sepatu sekolah yang bermerek.

Wajahnya yang putih tertutupi debu dan keringat. Menit berikutnya bocah tersebut berdiri an turun ke bahu jalan. Dia mendekati sebuah mobil yang sedang berhenti di depan lallu lintas yang menyala merah. Detik berikutnya, dia mengulurkan tanggannya meminta uang. Namun kaca mobil tersebut tetap tertutup meski sudah diketuk berkali-kali oleh bocah tersebut.
Bocah tersebut melonggo kecewa ketika mobil mewah tersebut melaju meninggalkan segumpal debu dan kekecewaan bagi bocah tersebut.

Akhirnya koran yang seharian ini aku jual habis juga. Tidak seperti biasanya, hari ini tidak ada koran yang tersisa. Mungkin orang-orang pada penasaran dengan berita Nazarudin yang lagi hangat dibicarakan. Hari ini sebenarnya aku hanya membantu seorang teman jualan koran karena dia mendadak diare.

Aku melangkah menghampiri bocah tersebut yang masih menyisahkan raut kekecewaan di wajahnya. Dari dekat aku melihat bibirnya yang kering. Sepertinya dia haus.
Spontan aku menawarkan botol minumanku. Belum sempat dia menerimanya, terdengar teriakan “Satpol PP! Kabur!”

Dari kejauhan aku melihat segerombolan manusia berseragam berlari ke arahku. Tanpa suara aku langsung menyeret bocah tersebut untuk lari.

Bocah tersebut mengikuti langkah kakiku yang menuju gang kecil yang gelap. Kami baru berhenti ketika berada di depan pintu gubuk yang gelap. Aku mengatur nafasku yang masih ngos-ngosan. Sementara bocah tersebut langsung duduk di tanah. Dia benar-benar kelelahan. Sepertinya tidak ada lagi tenaga yang tersisa ditubuhnya.

“Masuk yuk!” ajakku setelah membuka pintu.

Dengan sisa tenaga dia melangkah masuk. Begitu melihat tikar, dia langsung merebahkan dirinya disana.

*****
“Nama koko siapa?” tanyanya keesokan paginya.

“Ko Dewantara! Panggil aja Ko Tara!”

“Bagusan Ko Dewa! Aku manggil koko dengan ko Dewa ya?”

Aku hanya tersenyum. Setelah menyantap sebungkus nasi uduk dan teh hangat, dia menjadi aktif.

“Namaku, Joshua!”
“Rumah kamu di mana?”
Dia menatapku.

“Joshua mau nyari mama di Jakarta. Aku naik kereta api dari Bogor. Aku ngga betah tinggal sama papa! Setiap hari dimarahin terus sama mama tiri.”

“Rumah mama kamu di mana? Ada alamatnya?”Atau nomor telponnya?”

Joshua menggelengkan kepalanya.

“Trus bagaimana mau cari mama kamu kalau begitu?”
Diam. Hening.

“Joshua cuma ingat kalau rumah mama dekat Citra Land Mal. Joshua masih ingat kok bentuk rumah mama.”

“Ya udah, nanti habis mandi koko bantu kamu cariin rumah mama kamu.”
Sebuah senyuman terukir manis dibibirnya.

*****




Sudah hampir dua jam menjelajah daerah Tanjung Duren dan sekitarnya namun belum juga menemukan rumah yang dimaksudkan Joshua. 

“Capek?” tanyaku sambil mengelap keringat Joshua dengan tanganku.

Joshua hanya mengangguk lesu. Matanya menatapku dengan sayu.

“Joshua ngga ingat alamat rumah mama Joshua?”

Joshua menggeleng dengan putus asa dan penuh kelelahan.

*****

Aku benar-benar bingung mengurus seorang anak kecil. Selama dua hari Joshua tinggal di gubukku, 

Joshua selalu sakit. Mulai dari kepalanya yang pusing, perutnya yang mulas sampai badannya yang 

sakit.


Karena harus mencari uang aku terpaksa mengajak Joshua keliling menjajahkan jualanku. Uang 
 yang 

tersisa disakuku hanya cukup untuk mebeli dua potong pisang goreng. Setelah sedikit memelas 

akhirnya si tukang pisang goreng memberi satu potong sebagai bonus. Ketiga potong pisang goreng 

tersebut sukses masuk ke dalam perut Joshua.

Aku hanya tersenyum ketika Joshua menawarkan pisang goreng kepadaku. Tapi aku sengaja 
menolak. Dia tidak boleh kelaparan.

Malamnya, Joshua bilang kalau badannya semuanya sakit. Aku memegang dahinya.
“Astaga!”

Aku panik dengan keadaan Joshua yang menahan sakit. Dengan pelan dari mulutnya “Tuhan Yesus, tolong Joshua.”

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menggendong tubuh munggil Joshua untuk ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, ada ketakutan yang menyelimutiku.

Bagaimana kalau Joshua meninggal? Bagaimana kalau aku dituduh menculik Joshua?
Tapi sungguh, aku tidak tega membiarkannya begitu saja. Meski baru beberapa hari mengenalnya, tapi kami sudah seperti kakak dan adik.

“Koko kenapa mau nemenin Joshua cari rumah mama? Trus mau kasih makan Joshua?” masih terngiang pertanyaan tersebut.

“Kita harus mengasihi sesama kita yang membutuhkan. Percuma jadi orang kaya punya banyak duit tapi ngga mau menolong orang yang membutuhkan. Toh, koko ngga jatuh miskin gara-gara nolong kamu dan koko ngga jadi kaya raya hanya karena menghemat.”

“Joshua sayang koko!” ucapnya lalu memelukku dengan erat.
“Koko juga sayang Joshua!” balasku sambil membalas pelukannya.
*****

“Harus segera dirawat,” kata dokter yang memeriksa Joshua.
“Penyakitnya apa, dok?”
“Demam berdarah!”
“Ya Tuhan!” Jeritku dalam hati. Joshua terkena demam berdarah!
“Trombositnya sudah sangat menurun. Kita harus menemukan darah yang cocok untuknya.” Ucap dokter muda tersebut.
“Darah saya saja, dok! Ambil saja berapa banyak yang dokter mau!” ucapku spontan dan gugup.
“Hallo!” sapa seorang suster ketika menghampiri ranjang Joshua terbaring.
“Namanya siapa?” tanya suster tersebut ke Joshua.
“Joshua!” jawab si empunya nama lemah.
Mimik wajah suster tersebut berubah.
“Joshua? Kamu anaknya Ibu Cecilia Sutejo kan?”
Joshua menggangukan kepalanya dengan lemah.
“Jadi dokter mengenal ibu Joshua?” tanyaku antara senang dan sedih. Senang karena ada juga yang mengenal orang tua Joshua. Namun itu artinya, aku harus berpisah dengan Joshua.
*****
Sebulan kemudian.
Keceriaan wajah Joshua berubah ketika melihat tubuhku yang kurus terbaring lemah di rumah sakit. Kini giliranku yang terbaring lemah seperti Joshua sebulan yang lalu.
Joshua melangkah menghampiriku ditemani ibunya.
“Koko Dewa!” ucap Joshua setengah berbisik di ujung kupingku.
Aku mencoba mengukir senyumanku.

“Joshua, sudah punya duit! Kata mama, sudah cukup buat beli lampu studio. Koko masih pengen punya studio fotokan?”

Air mataku meleleh ke pipi tak tertahankan lagi ketika melihat celengan Joshua dari ranselnya. Tabungannya buat membeli studio foto untukku. Diletakkannya dengan hati-hati di dekat tanganku.
“Ini buat koko! Buat beli studio foto. Koko kan pernah bilang, kita harus mengasihi sesama kita yang membutuhkan. Percuma jadi orang kaya punya banyak duit tapi ngga mau menolong orang yang membutuhkan.”
“Terima kasih ya, sayang! Koko sayang Joshua.”
“Koko juga pernah bilang, bukan seberapa besar yang bisa kita beri tapi seberapa besar hati kita saat memberi. Setiap Joshua nabung uang jajan aku. Biar koko bisa punya studio foto.”
Aku menggengam tangan Joshua.
Sungguh aku tidak takut dengan vonis dokter namun yang aku takutkan adalah ketika aku nanti pergi, Joshua pasti sedih.
“Josh, masih ingat lagu yang koko pernah ajarin?”
“Masih! Aku nyanyiin buat koko ya!”
Aku mengangguk lemah. Detik berikutnya suara merdu Joshua mengalun.


Bukan Dengan Kekuatanku
Ku Dapat Jalani Hidupku
Tanpa Tuhan Yang Di Sampingku
Ku Tak Mampu Sendiri
Engkaulah Kuatku
Yang Menopangku
Reff :
Kupandang Wajah-Mu Dan Berseru
Pertolonganku Datang Dari-Mu
Peganglah Tanganku, Jangan Lepaskan
Kaulah Harapan Dalam Hidupku

Kado untuk Samuel

“Mengasihi artinya berbagi kebahagiaan dan berkorban demi kebahagiaan orang yang kita kasihi”
                                                     @and_kelv

“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.”

Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku. Matanya menatapku. Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.
“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak laki-laki tersebut.
“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”
“Kasihan kenapa, bu?”
“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit. Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”
“Begitu ya, bu!”
Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki. Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya.
“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.
Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong? Tapi nama kamu siapa?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah disikat.
“Namaku Samuel Lie. Dipanggilnya Samuel. Kalau kakak?”
“Dewantara, panggil saja kak Tara!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.
“Yuk, kita makan.”
“Di mana kak?”
“Tuh ada warteg!” ucapku sambil menunjuk sebuah warteg.
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir copot. Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku pesan sudah tidak tersisa lagi. Sampai menjilat jarinya segala.
“Terima kasih ya, kak!” ucapnya dengan malu-malu.
“Sama-sama,” balasku terharu meski aku tahu jatah makan malamku sudah tidak ada lagi.
*****
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 2×1,5 meter. Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.
“Aku panggil kakak dengan sebutan Ko Dewa ya?”
Aku menatapnya dengan keheranan di antara terang yang dipancarkan lilin kecil. Anehkan? Kos yang aku tinggali hanya seratus ribu sebulan. Tanpa listrik dan tanpa kamar mandi. Jadi kalau mau mandi harus ke WC umum. Itu pun harus bayar. Suara kereta api yang lewat persis di depan kosku sudah menjadi musik tersendiri bagiku. Kata orang ada harga, ada mutu. Seperti itulah gambaran kos di pinggiran rel kereta api.
“Dulu aku punya koko.”
“Trus koko kamu di mana sekarang?”
Hening. Sunyi. Bisu.
“Koko… Koko meninggal karena sakit sama seperti papa. Namanya Ko Daniel.”
Kembali kesunyian mencekam.
“Ngga apa-apakan kalau aku manggil kakak dengan panggilan Ko Dewa?”
Aku berusaha untuk tersenyum, “panggil saja Ko Tara, ya?”
“Oklah kalau begitu.”
Aku tertawa dengan tingkah lakunya yang masih polos.
Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap. Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi karena kelaparan.
*****
“Koko pengen punya toko sendiri,” celotehku ketika mengajaknya ke tempatku bekerja. “Ngga perlu besar, yang penting milik sendiri.”
“Kenapa ngga jadi koki saja?”
“Koki?”
“Iya. Bisa makan sepuasnya. Kita makan ya ko?”
“Kamu lapar?”
“Lapar setengah mati.”
“Tapi uang koko tinggal seribu rupiah. Cuma bisa beli gorengan.”
Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.”
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng. Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya!”
“Ngga mau! Koko kan belum makan apa-apa dari semalam?”
Dengan berat hati aku memakannya juga.
Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian menutupnya. Gajinya sih cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang ada di toko Ko Willy di blogku yang kuberi kamarsolusi.com. Keuntungannya memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau ngga mau dia harus memakai pakaianku.
*****
“Kamu sikat gigi pakai garam ya?”
Samuel menatapku dengan kebingungan.
“Odolnya habis. Koko belum bisa beli.”
“Ow.”
“Begini caranya…” ucapku lalu mengambil garam dengan telunjuk tanganku dan menggosokkannya ke gigiku.
“Asin ko!”
Aku tersenyum meski hatiku perih.
“Yah iyalah masa manis.”
*****

“Badanmu panas,” keluhku bingung ketika tanpa sengaja menyentuh tubuhnya. “Kamu sakit ya?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut munggil Samuel yang merah. Dahinya berkerut dan bibirnya mendesah menahan sakit.
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun.
Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju ke seluruh tubuhnya.
“Kita ke dokter ya?” usulku, meski aku sendiri tidak yakin mendapat pertolongan tanpa uang yang cukup. Orang miskin dilarang sakit! Kalau berobat harus pinjam sana-sini buat biaya berobat. Setelah sembuh kerja keras lagi buat bayar hutang.
Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab. Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Aku menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami.
Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh. Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku kewalahan menjawabnya.
“Woi, mau ke mana loe?” sergah satpam rumah sakit ketika melihatku. “Enak saja main masuk!”
“Adik saya sakit, pak?”
Satpam tersebut memandangku dan Samuel berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang keturunan Tionghoa.
“Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya mahal. Ngga terima pasien kayak begini!”
Ya Tuhan? Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin sepertiku tidak diterima?
Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk. Aku tetap nekat untuk masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel. Satpam tersebut hanya pasrah dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup tanpa alas kaki. Sandal nyang kupakai tadi putus. Mungkin sudah waktunya untuk diganti.
Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang memandangku. Dinginnya AC menusuk hingga tulang sum-sumku.
*****
Empat hari kemudian.
“Hemofilia?” tanyaku kaget.
“Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromosn X,” ucap dokter muda yang cantik perawakannya memberiku penjelasan.
Aku menggagumi kecantikannya.
“Tapi selama ini tidak ada keanehan yang saya temui, seperti pendarahan yang terus menerus atau terjadi benturan pada tubuhnya yang mengakibatkan kebiru-biruan. Kalau boleh tahu, Samuel mengidap hemofilia A atau Hemofilia B, dok?”
“Begitu ya? Hemofilia B.”
Aku terdiam.
“Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan menyatakan kalau dia juga positif HIV.”
Aku berdiri seperti patung. Samuel yang masih berumur enam tahun mengidap HIV? Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata Human Immunodeficiency Virus lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.
Kini aku tahu, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal karena HIV juga. Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditubuhnya. Selama Samuel di rawat tidak ada satu pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.
Masih jelas tergambar di memoriku pembicaraan kami berdua ketika mengajaknya makan di KFC di salah satu mal di bilangan Jakarta Barat.
“Samuel pengen kado natal!” Ungkap Samuel tiba-tiba begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
“Mau kado apa?”
“Cuma pengen boneka Tazmania.”
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit. Beberapa harri ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania yang gede.”
“Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”
“Tapi jangan lupa berdoa ya.”
“So, pasti!”
Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia mengutarakan keinginannya.
“Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum natal banyak tas yang laku.”
“Amin!” teriaknya memecah kesunyian malam.
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil mengusap kepalanya.
Menit berikutnya.
Dia mengajakku berdoa. Biasanya aku yang mengajaknya.
“Tuhan… Berkati Ko Tara ya. Berkati pekerjaannya dan usaha on…”
“Online.” timpalku yang mengetahuinya kesulitan menyebut kata tersebut.
“Usaha onlinenya. Berkati juga bloknya.”
Aku tersenyum ketika dia menyebut kata blog dengak pemakaian huruf K dibelakangnya.
“Nama blognya apa ko?”
Kamarsolusi dot com,” ucapku dengan perlahan-lahan.”
“Berkati kamarsolusi dot kom ya Tuhan. Biar banyak orang yang diberkati.”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.
*****
“Ko, aku mau pulang saja!”
“Kenapa sayang? Di sinikan enak? Ngga kayak di kos koko.”
“Tapi aku kasihan koko harus berhutang untuk bayar semuanya.”
Diam. Sesak.
“Kamu jangan pikirkan itu ya, sayang. Tuhan pasti cukupkan semuanya.”
Tidak ada pilihan selain meminjam uang dengan Ko Willy dengan jaminan gajiku di potong setengah dari seharusnya aku terima setiap bulan.
Sebatang kara seperti ini tidak bisa berharap pertolongan kepada keluarga. Ah, betapa indahnya kalau masih memiliki keluarga. Teman? Ini Jakarta. Uang ngga jatuh dari pohon kayak daun kering. Siapa yang mau memberikan pinjaman kepadaku tanpa jaminan apa-apa yang bisa disita kalau tidak mampu melunasi hutang yang ada? Memberikan pinjaman ke keluarga sendiri saja masih pakai hitung-hitungan. Kalau mau nyumbang harus di ekspos. Berharap kepada manusia memang sering mengecewakan.
“Kamu harus di rawat di sini supaya cepat sembuh.”
“Ko…. Maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf?”
“Aku sudah merepotkan koko.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak merepotkan kok. Percayalah! Koko malah senang bisa berkorban buat kamu.”
******

Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng untuknya.
“Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan lapar. HIV sudah memorak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel. Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal.
“Artinya, kamu akan suatu tempat yang jauh. Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.”
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan menemani koko?”
Akhirnya air mataku juga jatuh. Diantara penderitaannya dia masih memikirkanku.
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang. Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel?” ucapnya sambil meneteskan air matanya.
Aku memeluknya.
“Kamu ngga usah mikirin koko ya, sayang!  Tuhan pasti menjaga koko.”
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.
******
Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk Samuel. Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko…”
“Kenapa sayang?”
“Besok aku tidak bisa ikut koko natalan di gereja.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu suka ngga bonekanya?”
“Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko… kado.”
Aku tercengang!
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel. Suaranya semakin pelan.
“Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya”
Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah dia menyelesaikan lagu tersebut. Meski sudah tidak ada lagi harapan Samuel tetap percaya mujizat itu ada.
“Selamat natal ya ko,” ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”
“Ko…”
“Iya, sayang!”
“Koko bisa nyanyikan aku lagi malam kudus? Tapi pake bahasa inggris.”
Tanpa berpikir panjang aku memenuhi permintaan Samuel.
Silent night, holy night
All is calm and all is bright
Round yon virgin mother and child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace
Silent night, holy night
Shepherds quake at the sight
Glories stream from Heaven afar
Heavenly hosts sing halleluia
Christ the savior is born
Christ our savior is born
Silent night, holy night
Son of God
Love’s pure light
Radiant beams from thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus Lord at thy birth
Jesus Lord at thy birth
Halleluia!
Halleluia!
Halleluia!
Christ the savior is born
Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku,” bisikku dikupingnya yang dingin.
*****
TAMAT


Cerpen ini saya dedikasikan untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS), percayalah kalian adalah makluk Tuhan yang paling bahagia dan berharga di mata Tuhan dengan keadaan apapun.
“Jauhi virusnya bukan orangnya.”