*****
“Hendaklah masing-masing
memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau
karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan
sukacita”
(II Korintus9:7)
”Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”
(Amsal 11:24)
Aku menatap bocah kecil yang duduk
lesuh di dekat tiang lampu merah. Sedari tadi matanya melirik bocah
laki-laki tersebut yang mengenakan kaos oblong, celana SD dan sepatu
sekolah yang bermerek.
Wajahnya yang putih tertutupi debu
dan keringat. Menit berikutnya bocah tersebut berdiri an turun ke bahu
jalan. Dia mendekati sebuah mobil yang sedang berhenti di depan lallu
lintas yang menyala merah. Detik berikutnya, dia mengulurkan tanggannya
meminta uang. Namun kaca mobil tersebut tetap tertutup meski sudah
diketuk berkali-kali oleh bocah tersebut.
Bocah tersebut melonggo kecewa ketika mobil mewah tersebut melaju meninggalkan segumpal debu dan kekecewaan bagi bocah tersebut.
Akhirnya koran yang seharian ini
aku jual habis juga. Tidak seperti biasanya, hari ini tidak ada koran
yang tersisa. Mungkin orang-orang pada penasaran dengan berita Nazarudin
yang lagi hangat dibicarakan. Hari ini sebenarnya aku hanya membantu
seorang teman jualan koran karena dia mendadak diare.
Aku melangkah menghampiri bocah tersebut yang masih menyisahkan raut kekecewaan di wajahnya. Dari dekat aku melihat bibirnya yang kering. Sepertinya dia haus.
Spontan aku menawarkan botol minumanku. Belum sempat dia menerimanya, terdengar teriakan “Satpol PP! Kabur!”
Dari kejauhan aku melihat
segerombolan manusia berseragam berlari ke arahku. Tanpa suara aku
langsung menyeret bocah tersebut untuk lari.
Bocah tersebut mengikuti langkah
kakiku yang menuju gang kecil yang gelap. Kami baru berhenti ketika
berada di depan pintu gubuk yang gelap. Aku mengatur nafasku yang masih
ngos-ngosan. Sementara bocah tersebut langsung duduk di tanah. Dia
benar-benar kelelahan. Sepertinya tidak ada lagi tenaga yang tersisa
ditubuhnya.
“Masuk yuk!” ajakku setelah membuka pintu.
Dengan sisa tenaga dia melangkah masuk. Begitu melihat tikar, dia langsung merebahkan dirinya disana.
*****
“Nama koko siapa?” tanyanya keesokan paginya.
“Ko Dewantara! Panggil aja Ko Tara!”
“Bagusan Ko Dewa! Aku manggil koko dengan ko Dewa ya?”
Aku hanya tersenyum. Setelah menyantap sebungkus nasi uduk dan teh hangat, dia menjadi aktif.
“Namaku, Joshua!”
“Rumah kamu di mana?”
Dia menatapku.
“Joshua mau nyari mama di Jakarta.
Aku naik kereta api dari Bogor. Aku ngga betah tinggal sama papa! Setiap
hari dimarahin terus sama mama tiri.”
“Rumah mama kamu di mana? Ada alamatnya?”Atau nomor telponnya?”
Joshua menggelengkan kepalanya.
“Trus bagaimana mau cari mama kamu kalau begitu?”
Diam. Hening.
“Joshua cuma ingat kalau rumah mama dekat Citra Land Mal. Joshua masih ingat kok bentuk rumah mama.”
“Ya udah, nanti habis mandi koko bantu kamu cariin rumah mama kamu.”
Sebuah senyuman terukir manis dibibirnya.
*****
Sudah hampir dua jam menjelajah daerah Tanjung Duren dan sekitarnya namun belum juga menemukan rumah yang dimaksudkan Joshua.
“Capek?” tanyaku sambil mengelap keringat Joshua dengan tanganku.
Joshua hanya mengangguk lesu. Matanya menatapku dengan sayu.
“Joshua ngga ingat alamat rumah mama Joshua?”
Joshua menggeleng dengan putus asa dan penuh kelelahan.
*****
Aku benar-benar bingung mengurus
seorang anak kecil. Selama dua hari Joshua tinggal di gubukku,
Joshua
selalu sakit. Mulai dari kepalanya yang pusing, perutnya yang mulas
sampai badannya yang
sakit.
Karena harus mencari uang aku
terpaksa mengajak Joshua keliling menjajahkan jualanku. Uang
yang
tersisa disakuku hanya cukup untuk mebeli dua potong pisang goreng. Setelah
sedikit memelas
akhirnya si tukang pisang goreng memberi satu potong
sebagai bonus. Ketiga potong pisang goreng
tersebut sukses masuk ke
dalam perut Joshua.
Aku hanya tersenyum ketika Joshua menawarkan pisang goreng kepadaku. Tapi aku sengaja
menolak. Dia tidak boleh kelaparan.
Malamnya, Joshua bilang kalau badannya semuanya sakit. Aku memegang dahinya.
“Astaga!”
Aku panik dengan keadaan Joshua yang menahan sakit. Dengan pelan dari mulutnya “Tuhan Yesus, tolong Joshua.”
Tanpa berpikir dua kali, aku
langsung menggendong tubuh munggil Joshua untuk ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, ada ketakutan yang menyelimutiku.
Bagaimana kalau Joshua meninggal? Bagaimana kalau aku dituduh menculik Joshua?
Tapi sungguh, aku tidak tega
membiarkannya begitu saja. Meski baru beberapa hari mengenalnya, tapi
kami sudah seperti kakak dan adik.
“Koko kenapa mau nemenin Joshua cari rumah mama? Trus mau kasih makan Joshua?” masih terngiang pertanyaan tersebut.
“Kita harus mengasihi sesama kita
yang membutuhkan. Percuma jadi orang kaya punya banyak duit tapi ngga
mau menolong orang yang membutuhkan. Toh, koko ngga jatuh miskin
gara-gara nolong kamu dan koko ngga jadi kaya raya hanya karena
menghemat.”
“Joshua sayang koko!” ucapnya lalu memelukku dengan erat.
“Koko juga sayang Joshua!” balasku sambil membalas pelukannya.
*****
“Harus segera dirawat,” kata dokter yang memeriksa Joshua.
“Penyakitnya apa, dok?”
“Demam berdarah!”
“Ya Tuhan!” Jeritku dalam hati. Joshua terkena demam berdarah!
“Trombositnya sudah sangat menurun. Kita harus menemukan darah yang cocok untuknya.” Ucap dokter muda tersebut.
“Darah saya saja, dok! Ambil saja berapa banyak yang dokter mau!” ucapku spontan dan gugup.
“Hallo!” sapa seorang suster ketika menghampiri ranjang Joshua terbaring.
“Namanya siapa?” tanya suster tersebut ke Joshua.
“Joshua!” jawab si empunya nama lemah.
Mimik wajah suster tersebut berubah.
“Joshua? Kamu anaknya Ibu Cecilia Sutejo kan?”
Joshua menggangukan kepalanya dengan lemah.
“Jadi dokter mengenal ibu Joshua?”
tanyaku antara senang dan sedih. Senang karena ada juga yang mengenal
orang tua Joshua. Namun itu artinya, aku harus berpisah dengan Joshua.
*****
Sebulan kemudian.
Keceriaan wajah Joshua berubah
ketika melihat tubuhku yang kurus terbaring lemah di rumah sakit. Kini
giliranku yang terbaring lemah seperti Joshua sebulan yang lalu.
Joshua melangkah menghampiriku ditemani ibunya.
“Koko Dewa!” ucap Joshua setengah berbisik di ujung kupingku.
Aku mencoba mengukir senyumanku.
“Joshua, sudah punya duit! Kata mama, sudah cukup buat beli lampu studio. Koko masih pengen punya studio fotokan?”
Air mataku meleleh ke pipi tak
tertahankan lagi ketika melihat celengan Joshua dari ranselnya.
Tabungannya buat membeli studio foto untukku. Diletakkannya dengan
hati-hati di dekat tanganku.
“Ini buat koko! Buat beli studio
foto. Koko kan pernah bilang, kita harus mengasihi sesama kita yang
membutuhkan. Percuma jadi orang kaya punya banyak duit tapi ngga mau
menolong orang yang membutuhkan.”
“Terima kasih ya, sayang! Koko sayang Joshua.”
“Koko juga pernah bilang, bukan
seberapa besar yang bisa kita beri tapi seberapa besar hati kita saat
memberi. Setiap Joshua nabung uang jajan aku. Biar koko bisa punya
studio foto.”
Aku menggengam tangan Joshua.
Sungguh aku tidak takut dengan vonis dokter namun yang aku takutkan adalah ketika aku nanti pergi, Joshua pasti sedih.
“Josh, masih ingat lagu yang koko pernah ajarin?”
“Masih! Aku nyanyiin buat koko ya!”
Aku mengangguk lemah. Detik berikutnya suara merdu Joshua mengalun.
Bukan Dengan Kekuatanku
Ku Dapat Jalani Hidupku
Tanpa Tuhan Yang Di Sampingku
Ku Tak Mampu Sendiri
Engkaulah Kuatku
Yang Menopangku
Reff :Ku Dapat Jalani Hidupku
Tanpa Tuhan Yang Di Sampingku
Ku Tak Mampu Sendiri
Engkaulah Kuatku
Yang Menopangku
Kupandang Wajah-Mu Dan Berseru
Pertolonganku Datang Dari-Mu
Peganglah Tanganku, Jangan Lepaskan
Kaulah Harapan Dalam Hidupku




Tidak ada komentar:
Posting Komentar