“Ayah itu pahlawan karena seorang ayah akan melupakan apa yang dia inginkan, agar bisa memberikan apa yang anaknya butuhkan…”
Tidak pernah menjadi masalah, siapa ayah saya. Yang terpenting ayah saya adalah sosok yang mengasihi saya.
Aku tidak pernah malu. Sedikit pun!
Aku bangga dengan wajahku. Meski aku tak seperti ayah lainnya. Meski
terkadang aku harus menerima kenyataan kalau putraku satu-satunyalah
yang justru malu dengan keadaanku.
Hanya dia yang menjadi penghiburku setelah istriku pergi untuk selama-lamanya ketika Rio masih berumur tujuh bulan.
Membesarkan semata wayangku dengan
apa adanya yang aku punya. Tapi aku selalu memimpikan Rio Lie tidak
menjadi apa adanya melainkan menjadi anak yang luar biasa.
Sampai saat ini aku memilih menduda
dan berkomitmen membesarkan Rio sendiri. Tidak mudah sebenarnya. Tapi
semuanya dapat aku lakukan karena aku sangat mengasihi Rio.
Aku tidak pernah menyesal dengan
apa yang telah aku lakukan. Aku tidak pernah menyesal mengorbankan
banyak hal untuk Rio. Meski kebaikan dan pengorbananku itu dibalas
dengan kebencian.
“Papa! Aku tidak mau papa datang ke sekolahku lagi!” teriak Rio begitu tiba di rumah.
Aku menghela nafas yang panjang.
Ternyata kehadiranku tadi pagi ke sekolah untuk menggantarkan bukunya
yang tertinggal membuatnya marah seperti ini.
“Tapi, Rio…”
Belum sempat aku menjelaskan
semuanya, Rio memotong kalimatku. “Aku malu, pa! Rio malu di ledekin
sama teman-teman Rio! Rio tidak mau sekolah lagi!”
Seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa hatiku. Perih! Sakit!
Pada akhirnya aku pasrah! Tidak ada
pilihan lain selain memindahkan Rio ke sekolah lain. Kalau tidak, dia
tidak akan mau sekolah.
Seorang ayah pasti rindu jalan
bersama dengan anak semata wayangnya. Demikian juga aku. Tapi semua
kerinduan itu harus aku pendam. Aku tahu, Rio pasti tidak akan mau jalan
bersamaku. Aku harus memaklumi, Rio yang sudah beranjak remaja itu
pasti malu dengan keadaanku ini.
Aku tidak menolak keinginannya sama
sekali untuk memilih kos ketika Rio kuliah. Padahal jarak rumah dengan
kampus hanya tiga puluh menit.
*****
Aku membungkus kado istimewa untuk
Rio. Hari ini dia merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan belas tahun.
Aku nekad mendatangi kampusnya. Aku ingin sekali memberikan secara
langsung kado istimewa ini untuknya.
“Rio!” teriaku ketika melihatnya berjalan ke arah pintu gerbang kampus.
Aku yang hampir tiga jam menunggu
di warung terdekat tersenyum manis. Sudah hampir empat bulan Rio tidak
pulang ke rumah. Sungguh, aku rindu kepadanya.
Rio berlari kecil menghampiriku.
Aku mengangkat ke dua tanganku ketika Rio mendekatiku. Aku ingin sekali
memeluknya untuk melepaskan kerinduanku padanya.
Tapi Rio menyeret tanganku. Mengiringku ke tempat yang sepi!
“Papa! Apa-apan ini? Rio kan sudah bilang! Papa tidak perlu menjenguk Rio.”
Dengan mata yang berkaca-kaca, aku
hanya mampu mengucapkan “Selamat ulang tahun, Rio!”. Detik berikutnya
aku menyerahkan kado yang sudah aku siapkan. Aku menepuk-nepuk
pundakknya lalu beranjak pergi.
Aku cukup mengerti kenapa Rio bersikap demikian. Namun aku berharap, Rio membaca surat yang aku selipkan di kado istimewa yang telah aku berikan.
*****
Rio…
Selamat ulang tahun, nak. Maafkan
papa kalau papa tidak seperti papa lainnya. Papa sungguh mengerti
perasaan kamu. Papa tidak menyalahkanmu nak.
Tapi kamu harus tahu satu rahasia
yang papa simpan saat ini. Dulu, papa memiliki mata yang normal. Kedua
bola mata papa bisa melihat dengan baik. Tapi, papa dengan senang hati
mendonorkan salah satu bola mata papa untukmu. Kamu tahu kenapa?
Papa mengasihimu, nak! Ketika
dokter mengatakan salah satu matamu tidak berfungsi seperti anak normal
lainnya. Papa memutuskan, papa tidak rela kalau kamu dewasa nanti
menjadi minder karena tidak memiliki mata yang normal seperti anak
lainnya.
Rio…
Papa sudah melakukan bagian papa
untukmu. Simpan baik-baik Alkitab yang papa berikan. Maafkan papa kalau
uang kertasnya lusuh dan banyak uang koin. Hanya itu yang bisa papa
berikan untukmu.
Papa tidak tahu kado apa yang kamu
suka. Belilah kado yang kamu inginkan dengan uang tersebut. Maafkan papa
kalau papa tidak bisa membelikan kamu kado yang mahal.
Sekali lagi papa ucapkan, selamat ulang tahun Rio!
Yang mengasihimu,
PAPA
*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar